Akan Kubalas Sakit Hatimu, Bu part 10

Akan Kubalas Sakit Hatimu, Bu part 10


 AKAN KUBALAS SAKIT HATIMU, BU!


Part 10


“Astaghfirullah!” pekik Nayla seraya memegangi ibunya yang hampir terjatuh karena tamparan tersebut. “Ayah gila, ya?!”


“Kalian yang gila! Dan Kamu!” Telunjuk Pak Bara menuding tepat di depan wajah Bu rahayu. Setelahnya, dia kembali berkata, “Kalau gak bisa didik anak, biar aku yang didik! Dan kamu! Gak berhak hina istriku! Kamu juga, Nayla, mau jadi apa? Hobi keluyuran gak jelas, mau belajar jadi perek kamu?!”


Tamparan dan caci maki yang keluar dari mulut seorang Bara sangat membekas. Tidak hanya di pipi Bu Rahayu, tetapi juga di hati Nayla yang menyaksikan kejadian itu dan mendengar umpatan menyakitkan dari laki-laki yang dipanggilnya ayah. Laki-laki yang seharusnya jadi cinta pertamanya, ternyata menorehkan luka begitu dalam. Nayla menatap Pak Bara dengan mata berkaca-kaca. 


Bara berdiri tegap di depan rolling door yang kini sudah terbuka setengah. Matanya menyala, napasnya memburu, seperti api yang siap membakar segalanya.


“Racun apa yang sudah istrimu berikan sampai kamu kehilangan akal seperti ini, Bara?” tanya Bu Rahayu sambil menatap tajam pada mantan suaminya itu. 


Bara melangkah maju, menunjuk-nunjuk Bu Rahayu yang masih berdiri dengan pipi memerah. “Tutup mulut kotormu itu, Rahayu! Kamu itu wanita gak tahu diri! Masih aja ngaku-ngaku rumah itu milik kamu! Itu rumah sekarang udah milik aku dan istri aku! Ingat! Selama ini aku yang bekerja bukan kamu! Aku yang susah cari uang buat bangun rumah itu.jadi, gak ada andil kamu dan anak-anakmu di rumah itu. Paham kalian?”


Bu Rahayu, yang biasanya hanya terdiam sambil menahan air mata agar tidak jatuh. Dia tidak mau lagi terlihat lemah di depan mantan suaminya yang durjana, kali ini dia mendongak sesaat agar air matanya tidak tumpah. Tatapannya berubah tajam dan terlihat berani.


“Cukup, Bara,” ucapnya pelan, tetapi tegas. “Selama ini aku diam. Aku terima semua penghinaanmu, perlakuanmu, dan keputusanmu menggantikan aku dengan wanita itu. Tapi jangan kamu anggap diamku ini adalah sebuah kekalahan. Tidak, Bara! Aku hanya malas ribut dengan pecundang sepertimu. Tapi, kalau kamu terus-terusan memantik api, maka jangan salahkan kalau api amarah yang ada dalam diriku terus berkobar dan perlahan akan membakar dirimu, Bara. Anak yang menurutmu adalah anakku, mereka juga anakmu. Mereka darah dagingmu. Tidak adakah rasa sayangmu walau setipis kulit ari untuk mereka, Bara? mereka itu masih tanggung jawabmu. Dosa besar karena kamu sudah melalaikan mereka.”


“Halah omong kosong! Aku datang ke sini gak butuh ceramahmu, Yu. Tapi aku datang ke sini untuk memperingatimu dan anakmu yang gak punya adab itu!”


“Peringatan apa? Siapa yang gak punya adab? Orang datang-datang terus marah-marah. Kenapa? Kaget karena kita bisa punya usaha di sini? Terus Ayah pikir kami takut setelah Ayah bilang begitu?”


 “Nayla!” bentak Bara, tetapi Nayla tak gentar.


“Apa?! Selama ini Ibu diam bukan karena takut, tapi karena beliau masih punya hati. Sayangnya, hati itu sudah terlalu sering Ayah lukai. Sekarang, cukup sudah. Kalau Ayah datang ke sini cuma buat menyakiti kami, lebih baik angkat kaki dari tempat ini!”


“Berani sekali kamu bicara seperti itu ke ayahmu sendiri!” Bara melangkah maju dengan tangan terkepal.


Nayla tak mundur selangkah pun. “Oh, masih merasa kalau anda itu seorang Ayah? Ayahnya siapa? Oh Ayah dari anak tirimu itu ya?”


“Nayla!”


“Sejak kapan Ayah merasa jadi Ayah kami? Sejak meninggalkan kami demi perempuan itu? Sejak membiarkan ibu kerja siang malam sendirian? Sejak Ayah kehilangan hati dengan menolak membayar biaya rumah sakit padahal Risma sedang sekarat? Atau sejak ayah menampar ibu barusan? Ayah sudah kehilangan hak untuk disebut Ayah olehku maupun Risma.”


Ucapan Nayla bagaikan petir di siang bolong. Bara terdiam sejenak, mungkin karena terkejut atau mungkin karena egonya yang tercabik.


“Rumah itu, kamu bilang kamu yang bangun? Oke, kamu memang yang kerja, tapi tanpa doa dan dukungan dariku, apakah kamu bisa sampai di titik sekarang ini, Bara? Wanita yang kini bersamamu hanya mau enaknya saja. Coba kalau dia disuruh sepertiku yang menemanimu dari awal. Kurasa dia pun gak akan mau.”


Wajah Bara memerah, antara malu dan marah. “Cukup! Jangan lagi kamu jelekkan Arini. Sia tidak seburuk yang kamu kira. Dasar kaliannya saja yang tidak tahu diri!”


“Justru kamu yang sudah kelewat batas,” timpal Bu Rahayu dengan suara yang tak lagi bergetar. “Aku sudah cukup sabar, Bara. Tapi sekarang aku akan lawan. Aku akan buktikan bahwa wanita yang kamu anggap lemah ini bisa berdiri sendiri. Pergilah, Bara, jangan pernah datang jika kehadiranmu hanya mendatangkan luka. Aku hanya gak mau anak-anak semakin membencimu dan nantinya akan membuatmu menyesal.”


“Kamu salah, Rahayu, aku tidak akan pernah menyesal karena aku masih ada Salsa. Dia sangat menyayangiku dan aku yakin setelah tua nanti, dia pasti mah merawatku sepertiku yang tulus merawatnya.”


“Yah, jika itu keyakinanmu, silakan. Silakan lakukan apa yang kamu mau. Aku hanya peringatkan, selebihnya semua ada di tanganmu. Jadi, jangan salahkan jika nanti anak-anak akan menolakmu. Jika saat itu tiba, penyesalanmu pun tidak ada guna.”


Bara menatap tajam ke arah keduanya, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan melangkah keluar. Rolling door ditutup keras-keras olehnya hingga menimbulkan dentuman keras.


Begitu suasana kembali tenang, Bu Rahayu terduduk lemas di kursi yang berada tak jauh darinya. Dia memeluk Nayla erat-erat. “Maafkan Ibu, Nak, kamu harus lihat semua ini.”


Nayla menggeleng pelan. “Justru aku bangga, Bu. Karena Ibu akhirnya berani melawan. Kita sudah cukup lama diam. Dan mulai sekarang, jangan biarkan siapa pun menginjak-injak kita, mau itu mereka ataupun Mas Damar dan istrinya.”


Bu Rahayu mengelus rambut anak gadisnya, lalu dengan mata yang mulai basah, dia berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan pernah membiarkan dirinya diinjak-injak lagi.


Di luar sana, Bara menginjak pedal gas mobilnya dengan kasar. Namun di balik kaca spion, terlihat sorot mata yang tak lagi segarang tadi. Sebuah sorot mata yang perlahan menunjukkan bayangan kekalahan.


Dan untuk pertama kalinya, Nayla tidak merasa takut lagi menghadapi kenyataan bahwa orang yang dulu dia panggil ayah, kini hanyalah bagian dari masa lalu yang akan dia lawan habis-habisan demi ibunya.


***


Malam pun tiba, tetapi mata Rahayu tidak juga kunjung terpejam. Berkali-kali dia merubah posisinya. Wanita paruh baya itu akhirnya bangun dan berniat menuju kamar Nayla. Karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada anak tengahnya itu. 


Rahayu berjalan menuju kamar Nayla yang ada di sebelah kamarnya, dia mengetuk pintu dan tidak lama pintu terbuka. 


“Kamu belum tidur, Nay?”


Nayla menggeleng. “Belum ngantuk, Bu.”


“Meskipun besok libur, tapi gak baik kalau begadang, Nay,” ucap Bu Rahayu sambil mendaratkan tubuhnya di tempat tidur milik Nayla. 


“Ibu sendiri kenapa belum tidur?”


“Ibu kepikiran sesuatu yang penting dan mau minta pendapatmu, Nay.”


“Sesuatu penting? Apa itu, Bu?” tanya Nayla dengan dahi berkerut. 


“Ibu sudah putuskan, sepertinya Ibu mau jual rumah yang ditempati Damar dan Anisa. Sudah cukup Ibu selalu memikirkan mereka, toh mereka tidak memikirkan kita. Menurutmu gimana? Apa mau kita gadaikan saja ke rentenir yang prosesnya mudah?”


Baca cerita selengkapnya di KBM APP


Judul: Akan Kubalas Sakit Hatimu, Bu. 


Penulis: Vyra_fame

Dapatkan Tips Menarik Setiap Harinya!

  • Dapatkan tips dan trik yang belum pernah kamu tau sebelumnya
  • Jadilah orang pertama yang mengetahui hal-hal baru di dunia teknologi
  • Dapatkan Ebook Gratis: Cara Dapat 200 Juta / bulan dari AdSense

Belum ada Komentar untuk "Akan Kubalas Sakit Hatimu, Bu part 10 "

Posting Komentar

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel